
TENGGARONG – Bagi sebagian orang, sekolah hanya tempat bekerja. Namun bagi Mustaqim, guru SMA Nurul Yakin di Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), sekolah merupakan rumah kedua, kadang bahkan satu-satunya rumah. Kisahnya menjadi cermin tentang apa arti pengabdian sesungguhnya di mata seorang tenaga pendidik.
Setiap kali jalanan licin, hujan turun deras, atau tugas mendesak, Mustaqim memilih satu keputusan sederhana yakni tinggal di perpustakaan sekolah. Bahkan belakangan hal tersebut menjadi kebiasaan hingga pada akhirnya dalam setahun terakhir, ia mengaku kerap sering tinggal di sekolah.
“Kalau kondisinya jalan bagus, saya kadang-kadang pulang. Tapi lebih sering menginap di sekolah,” katanya.
Rumah Mustaqim berjarak sekitar lebih kurang 19–20 kilometer dari sekolah. Jarak yang bagi sebagian orang mungkin biasa. Namun di lingkungannya, kadang jarak kilometer bisa berubah menjadi perjalanan panjang yang tidak menentu, apalagi saat musim hujan dan sinyal hilang muncul.
“Kalau ada ujian, ada tugas penting, atau ada hal-hal soal guru, saya pilih menetap. Sekalian karena internet di sekolah lebih stabil dari pada di rumah,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Mengajar di sekolah swasta bukan soal kenyamanan. Honor minim, kadang tersendat, dan fasilitas seadanya. Tapi Mustaqim seperti sudah berdamai dengan itu. Apalagi ia sadar betul sekolah tempatnya mengajar tidak menarik uang pangkal atau Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) sejak pertama kali berdiri pada 2000 silam.
“Kalau masalah gaji, alhamdulillah. Tapi itu ‘kan hanya faktor kecil untuk bertahan hidup,” jelasnya.
“Ada hal yang jauh lebih penting yaitu mengaplikasikan ilmu kita. Ilmu itu ‘kan harus kita transfer ke generasi berikutnya,” timpalnya.
Kala malam tiba, ketika suara serangga menggantikan hiruk-pikuk murid, Mustaqim tidak selalu sendiri. Kadang ada rekannya, Muhammad Habibie yang memilih bermalam di sekolah.
“Kadang saya sendiri, kadang ada teman. Kami saling menjaga,” ucapnya.
Bagi Mustaqim, iklim kekeluargaan para guru di SMA Nurul Yakin merupakan anugerah. Meski pekerjaannya itu tidak menjadikan kehidupannya nyaman dan terjamin, ia merasa sangat bersyukur memiliki rekan kerja yang satu visi, memandang pendidikan sebagai ajang mengabdi bagi negeri.
“Yang penting itu nyaman bekerja sama dengan rekan-rekan. Materi itu nanti. Yang utama itu hubungan kita sebagai tim,” tuturnya.
Sebagai lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) 2016, Mustaqim tidak pernah mempelajari ilmu keguruan secara formal. Namun ia memegang teguh Tridharma Perguruan Tinggi yakni Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian.
“Itu ‘kan bagian dari pengabdian. Ilmu yang kita punya itu dipakai untuk membantu orang lain, bukan disimpan saja,” katanya.
Keputusan menjadi tenaga pendidik pada 2019 adalah titik balik hidupnya. Sebelumnya ia bekerja serabutan, bahkan sempat di dunia perhotelan.
“Tapi akhirnya saya merasa, di sekolah ini saya lebih dibutuhkan,” ujar Mustaqim.
Selama enam tahun mengajar, momen paling bermakna bagi Mustaqim bukanlah acara seremonial atau angka-angka kelulusan. Baginya pengalaman paling berkesan adalah saat ia mampu membantu murid-murid mengatasi konflik, masalah pribadi, atau kesulitan belajar.
“Setiap guru punya momen sendiri-sendiri. Buat saya, ketika bisa membantu siswa memahami masalah, itu sudah membahagiakan,” katanya.
Pada momentum Hari Guru Nasional (HGB) ke-80, Mustaqim tidak ingin ketinggalan untuk turut menyampaikan harapan yang sangat sederhana tapi tegas bagi dunia pendidikan.
“Yang penting pendidikan tetap di relnya (jalurnya). Jangan sampai ilmu dibuat komersial berlebihan. Kalau itu terjadi, bagaimana nasib generasi kita ke depan,” ucapnya.
Sementara itu, ketika ditanya mengapa tetap bertahan menjadi tenaga pengajar meski bisa saja ia menemukan sumber penghasilan yang lebih memadai, Mustaqim kembali pada satu kata yang sejak awal dipegangnya yaitu pengabdian.
“Dari awal saya sudah bilang. Ada ilmu yang bisa kita berikan kepada generasi yang membutuhkan. Kenapa tidak dipakai,” katanya menutup percakapan.
Dalam keheningan perpustakaan sekolah tempat ia sering bermalam, Mustaqim mungkin tidak menyadari keteguhan hatinya justru membuatnya pantas dipanggil guru sejati.
Bukan karena gelarnya. Bukan karena honornya. Tapi karena ia memilih jalan yang tidak banyak orang berani tempuh, mengajar dari hati, dan mengabdi dengan sepenuh jiwa.
Sumber: radarmedia.id