{"id":306,"date":"2025-11-26T06:25:14","date_gmt":"2025-11-26T06:25:14","guid":{"rendered":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/?p=306"},"modified":"2025-11-26T06:25:28","modified_gmt":"2025-11-26T06:25:28","slug":"mustaqim-guru-yang-tinggal-di-perpustakaan-bukti-pengabdian-guru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/2025\/11\/26\/mustaqim-guru-yang-tinggal-di-perpustakaan-bukti-pengabdian-guru\/","title":{"rendered":"Mustaqim, Guru yang Tinggal di Perpustakaan Bukti Pengabdian Guru"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"459\" src=\"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/image-2-1024x459.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-307\" srcset=\"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/image-2-1024x459.png 1024w, https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/image-2-300x135.png 300w, https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/image-2-768x344.png 768w, https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/image-2.png 1280w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<div style=\"height:48px\" aria-hidden=\"true\" class=\"wp-block-spacer\"><\/div>\n\n\n\n<p><strong>TENGGARONG<\/strong> \u2013 Bagi sebagian orang, sekolah hanya tempat bekerja. Namun bagi Mustaqim, guru SMA Nurul Yakin di Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), sekolah merupakan rumah kedua, kadang bahkan satu-satunya rumah. Kisahnya menjadi cermin tentang apa arti pengabdian sesungguhnya di mata seorang tenaga pendidik.<\/p>\n\n\n\n<p>Setiap kali jalanan licin, hujan turun deras, atau tugas mendesak, Mustaqim memilih satu keputusan sederhana yakni tinggal di perpustakaan sekolah. Bahkan belakangan hal tersebut menjadi kebiasaan hingga pada akhirnya dalam setahun terakhir, ia mengaku kerap sering tinggal di sekolah.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKalau kondisinya jalan bagus, saya kadang-kadang pulang. Tapi lebih sering menginap di sekolah,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Rumah Mustaqim berjarak sekitar lebih kurang 19\u201320 kilometer dari sekolah. Jarak yang bagi sebagian orang mungkin biasa. Namun di lingkungannya, kadang jarak kilometer bisa berubah menjadi perjalanan panjang yang tidak menentu, apalagi saat musim hujan dan sinyal hilang muncul.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKalau ada ujian, ada tugas penting, atau ada hal-hal soal guru, saya pilih menetap. Sekalian karena internet di sekolah lebih stabil dari pada di rumah,\u201d ujarnya sambil tertawa kecil.<\/p>\n\n\n\n<p>Mengajar di sekolah swasta bukan soal kenyamanan. Honor minim, kadang tersendat, dan fasilitas seadanya. Tapi Mustaqim seperti sudah berdamai dengan itu. Apalagi ia sadar betul sekolah tempatnya mengajar tidak menarik uang pangkal atau Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) sejak pertama kali berdiri pada 2000 silam.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKalau masalah gaji, alhamdulillah. Tapi itu \u2018kan hanya faktor kecil untuk bertahan hidup,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAda hal yang jauh lebih penting yaitu mengaplikasikan ilmu kita. Ilmu itu \u2018kan harus kita transfer ke generasi berikutnya,\u201d timpalnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Kala malam tiba, ketika suara serangga menggantikan hiruk-pikuk murid, Mustaqim tidak selalu sendiri. Kadang ada rekannya, Muhammad Habibie yang memilih bermalam di sekolah.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKadang saya sendiri, kadang ada teman. Kami saling menjaga,\u201d ucapnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagi Mustaqim, iklim kekeluargaan para guru di SMA Nurul Yakin merupakan anugerah. Meski pekerjaannya itu tidak menjadikan kehidupannya nyaman dan terjamin, ia merasa sangat bersyukur memiliki rekan kerja yang satu visi, memandang pendidikan sebagai ajang mengabdi bagi negeri.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cYang penting itu nyaman bekerja sama dengan rekan-rekan. Materi itu nanti. Yang utama itu hubungan kita sebagai tim,\u201d tuturnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) 2016, Mustaqim tidak pernah mempelajari ilmu keguruan secara formal. Namun ia memegang teguh Tridharma Perguruan Tinggi yakni Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cItu \u2018kan bagian dari pengabdian. Ilmu yang kita punya itu dipakai untuk membantu orang lain, bukan disimpan saja,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Keputusan menjadi tenaga pendidik pada 2019 adalah titik balik hidupnya. Sebelumnya ia bekerja serabutan, bahkan sempat di dunia perhotelan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTapi akhirnya saya merasa, di sekolah ini saya lebih dibutuhkan,\u201d ujar Mustaqim.<\/p>\n\n\n\n<p>Selama enam tahun mengajar, momen paling bermakna bagi Mustaqim bukanlah acara seremonial atau angka-angka kelulusan. Baginya pengalaman paling berkesan adalah saat ia mampu membantu murid-murid mengatasi konflik, masalah pribadi, atau kesulitan belajar.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSetiap guru punya momen sendiri-sendiri. Buat saya, ketika bisa membantu siswa memahami masalah, itu sudah membahagiakan,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada momentum Hari Guru Nasional (HGB) ke-80, Mustaqim tidak ingin ketinggalan untuk turut menyampaikan harapan yang sangat sederhana tapi tegas bagi dunia pendidikan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cYang penting pendidikan tetap di relnya (jalurnya). Jangan sampai ilmu dibuat komersial berlebihan. Kalau itu terjadi, bagaimana nasib generasi kita ke depan,\u201d ucapnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, ketika ditanya mengapa tetap bertahan menjadi tenaga pengajar meski bisa saja ia menemukan sumber penghasilan yang lebih memadai, Mustaqim kembali pada satu kata yang sejak awal dipegangnya yaitu pengabdian.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDari awal saya sudah bilang. Ada ilmu yang bisa kita berikan kepada generasi yang membutuhkan. Kenapa tidak dipakai,\u201d katanya menutup percakapan.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam keheningan perpustakaan sekolah tempat ia sering bermalam, Mustaqim mungkin tidak menyadari keteguhan hatinya justru membuatnya pantas dipanggil guru sejati.<\/p>\n\n\n\n<p>Bukan karena gelarnya. Bukan karena honornya. Tapi karena ia memilih jalan yang tidak banyak orang berani tempuh, mengajar dari hati, dan mengabdi dengan sepenuh jiwa.<\/p>\n\n\n\n<p>Sumber: radarmedia.id<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>TENGGARONG \u2013 Bagi sebagian orang, sekolah hanya tempat bekerja. Namun bagi Mustaqim, guru SMA Nurul Yakin di Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), sekolah merupakan rumah kedua, kadang bahkan satu-satunya rumah. Kisahnya menjadi cermin tentang apa arti pengabdian sesungguhnya di mata seorang tenaga pendidik. Setiap kali jalanan licin, hujan turun deras, atau tugas mendesak, Mustaqim memilih satu keputusan sederhana yakni tinggal di perpustakaan sekolah. Bahkan belakangan hal tersebut menjadi kebiasaan hingga pada akhirnya dalam setahun terakhir, ia mengaku kerap sering tinggal di sekolah. \u201cKalau kondisinya jalan bagus, saya kadang-kadang pulang. Tapi lebih sering menginap di sekolah,\u201d katanya. Rumah Mustaqim berjarak sekitar lebih kurang 19\u201320 kilometer dari sekolah. Jarak yang bagi sebagian orang mungkin biasa. Namun di lingkungannya, kadang jarak kilometer bisa berubah menjadi perjalanan panjang yang tidak menentu, apalagi saat musim hujan dan sinyal hilang muncul. \u201cKalau ada ujian, ada tugas penting, atau ada hal-hal soal guru, saya pilih menetap. Sekalian karena internet di sekolah lebih stabil dari pada di rumah,\u201d ujarnya sambil tertawa kecil. Mengajar di sekolah swasta bukan soal kenyamanan. Honor minim, kadang tersendat, dan fasilitas seadanya. Tapi Mustaqim seperti sudah berdamai dengan itu. Apalagi ia sadar betul sekolah tempatnya mengajar tidak menarik uang pangkal atau Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) sejak pertama kali berdiri pada 2000 silam. \u201cKalau masalah gaji, alhamdulillah. Tapi itu \u2018kan hanya faktor kecil untuk bertahan hidup,\u201d jelasnya. \u201cAda hal yang jauh lebih penting yaitu mengaplikasikan ilmu kita. Ilmu itu \u2018kan harus kita transfer ke generasi berikutnya,\u201d timpalnya. Kala malam tiba, ketika suara serangga menggantikan hiruk-pikuk murid, Mustaqim tidak selalu sendiri. Kadang ada rekannya, Muhammad Habibie yang memilih bermalam di sekolah. \u201cKadang saya sendiri, kadang ada teman. Kami saling menjaga,\u201d ucapnya. Bagi Mustaqim, iklim kekeluargaan para guru di SMA Nurul Yakin merupakan anugerah. Meski pekerjaannya itu tidak menjadikan kehidupannya nyaman dan terjamin, ia merasa sangat bersyukur memiliki rekan kerja yang satu visi, memandang pendidikan sebagai ajang mengabdi bagi negeri. \u201cYang penting itu nyaman bekerja sama dengan rekan-rekan. Materi itu nanti. Yang utama itu hubungan kita sebagai tim,\u201d tuturnya. Sebagai lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) 2016, Mustaqim tidak pernah mempelajari ilmu keguruan secara formal. Namun ia memegang teguh Tridharma Perguruan Tinggi yakni Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian. \u201cItu \u2018kan bagian dari pengabdian. Ilmu yang kita punya itu dipakai untuk membantu orang lain, bukan disimpan saja,\u201d katanya. Keputusan menjadi tenaga pendidik pada 2019 adalah titik balik hidupnya. Sebelumnya ia bekerja serabutan, bahkan sempat di dunia perhotelan. \u201cTapi akhirnya saya merasa, di sekolah ini saya lebih dibutuhkan,\u201d ujar Mustaqim. Selama enam tahun mengajar, momen paling bermakna bagi Mustaqim bukanlah acara seremonial atau angka-angka kelulusan. Baginya pengalaman paling berkesan adalah saat ia mampu membantu murid-murid mengatasi konflik, masalah pribadi, atau kesulitan belajar. \u201cSetiap guru punya momen sendiri-sendiri. Buat saya, ketika bisa membantu siswa memahami masalah, itu sudah membahagiakan,\u201d katanya. Pada momentum Hari Guru Nasional (HGB) ke-80, Mustaqim tidak ingin ketinggalan untuk turut menyampaikan harapan yang sangat sederhana tapi tegas bagi dunia pendidikan. \u201cYang penting pendidikan tetap di relnya (jalurnya). Jangan sampai ilmu dibuat komersial berlebihan. Kalau itu terjadi, bagaimana nasib generasi kita ke depan,\u201d ucapnya. Sementara itu, ketika ditanya mengapa tetap bertahan menjadi tenaga pengajar meski bisa saja ia menemukan sumber penghasilan yang lebih memadai, Mustaqim kembali pada satu kata yang sejak awal dipegangnya yaitu pengabdian. \u201cDari awal saya sudah bilang. Ada ilmu yang bisa kita berikan kepada generasi yang membutuhkan. Kenapa tidak dipakai,\u201d katanya menutup percakapan. Dalam keheningan perpustakaan sekolah tempat ia sering bermalam, Mustaqim mungkin tidak menyadari keteguhan hatinya justru membuatnya pantas dipanggil guru sejati. Bukan karena gelarnya. Bukan karena honornya. Tapi karena ia memilih jalan yang tidak banyak orang berani tempuh, mengajar dari hati, dan mengabdi dengan sepenuh jiwa. Sumber: radarmedia.id<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":308,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"neve_meta_sidebar":"","neve_meta_container":"","neve_meta_enable_content_width":"","neve_meta_content_width":0,"neve_meta_title_alignment":"","neve_meta_author_avatar":"","neve_post_elements_order":"","neve_meta_disable_header":"","neve_meta_disable_footer":"","neve_meta_disable_title":"","footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-306","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.6 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Mustaqim, Guru yang Tinggal di Perpustakaan Bukti Pengabdian Guru - Perpustakaan Hanoman<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/2025\/11\/26\/mustaqim-guru-yang-tinggal-di-perpustakaan-bukti-pengabdian-guru\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Mustaqim, Guru yang Tinggal di Perpustakaan Bukti Pengabdian Guru - Perpustakaan Hanoman\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"TENGGARONG \u2013 Bagi sebagian orang, sekolah hanya tempat bekerja. Namun bagi Mustaqim, guru SMA Nurul Yakin di Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), sekolah merupakan rumah kedua, kadang bahkan satu-satunya rumah. Kisahnya menjadi cermin tentang apa arti pengabdian sesungguhnya di mata seorang tenaga pendidik. Setiap kali jalanan licin, hujan turun deras, atau tugas mendesak, Mustaqim memilih satu keputusan sederhana yakni tinggal di perpustakaan sekolah. Bahkan belakangan hal tersebut menjadi kebiasaan hingga pada akhirnya dalam setahun terakhir, ia mengaku kerap sering tinggal di sekolah. \u201cKalau kondisinya jalan bagus, saya kadang-kadang pulang. Tapi lebih sering menginap di sekolah,\u201d katanya. Rumah Mustaqim berjarak sekitar lebih kurang 19\u201320 kilometer dari sekolah. Jarak yang bagi sebagian orang mungkin biasa. Namun di lingkungannya, kadang jarak kilometer bisa berubah menjadi perjalanan panjang yang tidak menentu, apalagi saat musim hujan dan sinyal hilang muncul. \u201cKalau ada ujian, ada tugas penting, atau ada hal-hal soal guru, saya pilih menetap. Sekalian karena internet di sekolah lebih stabil dari pada di rumah,\u201d ujarnya sambil tertawa kecil. Mengajar di sekolah swasta bukan soal kenyamanan. Honor minim, kadang tersendat, dan fasilitas seadanya. Tapi Mustaqim seperti sudah berdamai dengan itu. Apalagi ia sadar betul sekolah tempatnya mengajar tidak menarik uang pangkal atau Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) sejak pertama kali berdiri pada 2000 silam. \u201cKalau masalah gaji, alhamdulillah. Tapi itu \u2018kan hanya faktor kecil untuk bertahan hidup,\u201d jelasnya. \u201cAda hal yang jauh lebih penting yaitu mengaplikasikan ilmu kita. Ilmu itu \u2018kan harus kita transfer ke generasi berikutnya,\u201d timpalnya. Kala malam tiba, ketika suara serangga menggantikan hiruk-pikuk murid, Mustaqim tidak selalu sendiri. Kadang ada rekannya, Muhammad Habibie yang memilih bermalam di sekolah. \u201cKadang saya sendiri, kadang ada teman. Kami saling menjaga,\u201d ucapnya. Bagi Mustaqim, iklim kekeluargaan para guru di SMA Nurul Yakin merupakan anugerah. Meski pekerjaannya itu tidak menjadikan kehidupannya nyaman dan terjamin, ia merasa sangat bersyukur memiliki rekan kerja yang satu visi, memandang pendidikan sebagai ajang mengabdi bagi negeri. \u201cYang penting itu nyaman bekerja sama dengan rekan-rekan. Materi itu nanti. Yang utama itu hubungan kita sebagai tim,\u201d tuturnya. Sebagai lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) 2016, Mustaqim tidak pernah mempelajari ilmu keguruan secara formal. Namun ia memegang teguh Tridharma Perguruan Tinggi yakni Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian. \u201cItu \u2018kan bagian dari pengabdian. Ilmu yang kita punya itu dipakai untuk membantu orang lain, bukan disimpan saja,\u201d katanya. Keputusan menjadi tenaga pendidik pada 2019 adalah titik balik hidupnya. Sebelumnya ia bekerja serabutan, bahkan sempat di dunia perhotelan. \u201cTapi akhirnya saya merasa, di sekolah ini saya lebih dibutuhkan,\u201d ujar Mustaqim. Selama enam tahun mengajar, momen paling bermakna bagi Mustaqim bukanlah acara seremonial atau angka-angka kelulusan. Baginya pengalaman paling berkesan adalah saat ia mampu membantu murid-murid mengatasi konflik, masalah pribadi, atau kesulitan belajar. \u201cSetiap guru punya momen sendiri-sendiri. Buat saya, ketika bisa membantu siswa memahami masalah, itu sudah membahagiakan,\u201d katanya. Pada momentum Hari Guru Nasional (HGB) ke-80, Mustaqim tidak ingin ketinggalan untuk turut menyampaikan harapan yang sangat sederhana tapi tegas bagi dunia pendidikan. \u201cYang penting pendidikan tetap di relnya (jalurnya). Jangan sampai ilmu dibuat komersial berlebihan. Kalau itu terjadi, bagaimana nasib generasi kita ke depan,\u201d ucapnya. Sementara itu, ketika ditanya mengapa tetap bertahan menjadi tenaga pengajar meski bisa saja ia menemukan sumber penghasilan yang lebih memadai, Mustaqim kembali pada satu kata yang sejak awal dipegangnya yaitu pengabdian. \u201cDari awal saya sudah bilang. Ada ilmu yang bisa kita berikan kepada generasi yang membutuhkan. Kenapa tidak dipakai,\u201d katanya menutup percakapan. Dalam keheningan perpustakaan sekolah tempat ia sering bermalam, Mustaqim mungkin tidak menyadari keteguhan hatinya justru membuatnya pantas dipanggil guru sejati. Bukan karena gelarnya. Bukan karena honornya. Tapi karena ia memilih jalan yang tidak banyak orang berani tempuh, mengajar dari hati, dan mengabdi dengan sepenuh jiwa. Sumber: radarmedia.id\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/2025\/11\/26\/mustaqim-guru-yang-tinggal-di-perpustakaan-bukti-pengabdian-guru\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Perpustakaan Hanoman\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-11-26T06:25:14+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-11-26T06:25:28+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/image-2-1.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1280\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"720\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/2025\/11\/26\/mustaqim-guru-yang-tinggal-di-perpustakaan-bukti-pengabdian-guru\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/2025\/11\/26\/mustaqim-guru-yang-tinggal-di-perpustakaan-bukti-pengabdian-guru\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin\",\"@id\":\"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/#\/schema\/person\/5c910934a951b2bee5c28a9411a9630e\"},\"headline\":\"Mustaqim, Guru yang Tinggal di Perpustakaan Bukti Pengabdian Guru\",\"datePublished\":\"2025-11-26T06:25:14+00:00\",\"dateModified\":\"2025-11-26T06:25:28+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/2025\/11\/26\/mustaqim-guru-yang-tinggal-di-perpustakaan-bukti-pengabdian-guru\/\"},\"wordCount\":611,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/2025\/11\/26\/mustaqim-guru-yang-tinggal-di-perpustakaan-bukti-pengabdian-guru\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/image-2-1.png\",\"articleSection\":[\"Artikel\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/2025\/11\/26\/mustaqim-guru-yang-tinggal-di-perpustakaan-bukti-pengabdian-guru\/\",\"url\":\"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/2025\/11\/26\/mustaqim-guru-yang-tinggal-di-perpustakaan-bukti-pengabdian-guru\/\",\"name\":\"Mustaqim, Guru yang Tinggal di Perpustakaan Bukti Pengabdian Guru - Perpustakaan Hanoman\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/2025\/11\/26\/mustaqim-guru-yang-tinggal-di-perpustakaan-bukti-pengabdian-guru\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/2025\/11\/26\/mustaqim-guru-yang-tinggal-di-perpustakaan-bukti-pengabdian-guru\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/image-2-1.png\",\"datePublished\":\"2025-11-26T06:25:14+00:00\",\"dateModified\":\"2025-11-26T06:25:28+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/2025\/11\/26\/mustaqim-guru-yang-tinggal-di-perpustakaan-bukti-pengabdian-guru\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/2025\/11\/26\/mustaqim-guru-yang-tinggal-di-perpustakaan-bukti-pengabdian-guru\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/2025\/11\/26\/mustaqim-guru-yang-tinggal-di-perpustakaan-bukti-pengabdian-guru\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/image-2-1.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/image-2-1.png\",\"width\":1280,\"height\":720},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/2025\/11\/26\/mustaqim-guru-yang-tinggal-di-perpustakaan-bukti-pengabdian-guru\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Mustaqim, Guru yang Tinggal di Perpustakaan Bukti Pengabdian Guru\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/\",\"name\":\"Perpustakaan Hanoman\",\"description\":\"\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/#organization\",\"name\":\"Perpustakaan Hanoman\",\"url\":\"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Logo-100.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Logo-100.png\",\"width\":100,\"height\":100,\"caption\":\"Perpustakaan Hanoman\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/#\/schema\/logo\/image\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/#\/schema\/person\/5c910934a951b2bee5c28a9411a9630e\",\"name\":\"admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/af611300caac11cd1c354d7f8fe22e0ce3330b673569e8101715685464659c94?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/af611300caac11cd1c354d7f8fe22e0ce3330b673569e8101715685464659c94?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\"],\"url\":\"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/author\/perpushanoman\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Mustaqim, Guru yang Tinggal di Perpustakaan Bukti Pengabdian Guru - Perpustakaan Hanoman","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/2025\/11\/26\/mustaqim-guru-yang-tinggal-di-perpustakaan-bukti-pengabdian-guru\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Mustaqim, Guru yang Tinggal di Perpustakaan Bukti Pengabdian Guru - Perpustakaan Hanoman","og_description":"TENGGARONG \u2013 Bagi sebagian orang, sekolah hanya tempat bekerja. Namun bagi Mustaqim, guru SMA Nurul Yakin di Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), sekolah merupakan rumah kedua, kadang bahkan satu-satunya rumah. Kisahnya menjadi cermin tentang apa arti pengabdian sesungguhnya di mata seorang tenaga pendidik. Setiap kali jalanan licin, hujan turun deras, atau tugas mendesak, Mustaqim memilih satu keputusan sederhana yakni tinggal di perpustakaan sekolah. Bahkan belakangan hal tersebut menjadi kebiasaan hingga pada akhirnya dalam setahun terakhir, ia mengaku kerap sering tinggal di sekolah. \u201cKalau kondisinya jalan bagus, saya kadang-kadang pulang. Tapi lebih sering menginap di sekolah,\u201d katanya. Rumah Mustaqim berjarak sekitar lebih kurang 19\u201320 kilometer dari sekolah. Jarak yang bagi sebagian orang mungkin biasa. Namun di lingkungannya, kadang jarak kilometer bisa berubah menjadi perjalanan panjang yang tidak menentu, apalagi saat musim hujan dan sinyal hilang muncul. \u201cKalau ada ujian, ada tugas penting, atau ada hal-hal soal guru, saya pilih menetap. Sekalian karena internet di sekolah lebih stabil dari pada di rumah,\u201d ujarnya sambil tertawa kecil. Mengajar di sekolah swasta bukan soal kenyamanan. Honor minim, kadang tersendat, dan fasilitas seadanya. Tapi Mustaqim seperti sudah berdamai dengan itu. Apalagi ia sadar betul sekolah tempatnya mengajar tidak menarik uang pangkal atau Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) sejak pertama kali berdiri pada 2000 silam. \u201cKalau masalah gaji, alhamdulillah. Tapi itu \u2018kan hanya faktor kecil untuk bertahan hidup,\u201d jelasnya. \u201cAda hal yang jauh lebih penting yaitu mengaplikasikan ilmu kita. Ilmu itu \u2018kan harus kita transfer ke generasi berikutnya,\u201d timpalnya. Kala malam tiba, ketika suara serangga menggantikan hiruk-pikuk murid, Mustaqim tidak selalu sendiri. Kadang ada rekannya, Muhammad Habibie yang memilih bermalam di sekolah. \u201cKadang saya sendiri, kadang ada teman. Kami saling menjaga,\u201d ucapnya. Bagi Mustaqim, iklim kekeluargaan para guru di SMA Nurul Yakin merupakan anugerah. Meski pekerjaannya itu tidak menjadikan kehidupannya nyaman dan terjamin, ia merasa sangat bersyukur memiliki rekan kerja yang satu visi, memandang pendidikan sebagai ajang mengabdi bagi negeri. \u201cYang penting itu nyaman bekerja sama dengan rekan-rekan. Materi itu nanti. Yang utama itu hubungan kita sebagai tim,\u201d tuturnya. Sebagai lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) 2016, Mustaqim tidak pernah mempelajari ilmu keguruan secara formal. Namun ia memegang teguh Tridharma Perguruan Tinggi yakni Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian. \u201cItu \u2018kan bagian dari pengabdian. Ilmu yang kita punya itu dipakai untuk membantu orang lain, bukan disimpan saja,\u201d katanya. Keputusan menjadi tenaga pendidik pada 2019 adalah titik balik hidupnya. Sebelumnya ia bekerja serabutan, bahkan sempat di dunia perhotelan. \u201cTapi akhirnya saya merasa, di sekolah ini saya lebih dibutuhkan,\u201d ujar Mustaqim. Selama enam tahun mengajar, momen paling bermakna bagi Mustaqim bukanlah acara seremonial atau angka-angka kelulusan. Baginya pengalaman paling berkesan adalah saat ia mampu membantu murid-murid mengatasi konflik, masalah pribadi, atau kesulitan belajar. \u201cSetiap guru punya momen sendiri-sendiri. Buat saya, ketika bisa membantu siswa memahami masalah, itu sudah membahagiakan,\u201d katanya. Pada momentum Hari Guru Nasional (HGB) ke-80, Mustaqim tidak ingin ketinggalan untuk turut menyampaikan harapan yang sangat sederhana tapi tegas bagi dunia pendidikan. \u201cYang penting pendidikan tetap di relnya (jalurnya). Jangan sampai ilmu dibuat komersial berlebihan. Kalau itu terjadi, bagaimana nasib generasi kita ke depan,\u201d ucapnya. Sementara itu, ketika ditanya mengapa tetap bertahan menjadi tenaga pengajar meski bisa saja ia menemukan sumber penghasilan yang lebih memadai, Mustaqim kembali pada satu kata yang sejak awal dipegangnya yaitu pengabdian. \u201cDari awal saya sudah bilang. Ada ilmu yang bisa kita berikan kepada generasi yang membutuhkan. Kenapa tidak dipakai,\u201d katanya menutup percakapan. Dalam keheningan perpustakaan sekolah tempat ia sering bermalam, Mustaqim mungkin tidak menyadari keteguhan hatinya justru membuatnya pantas dipanggil guru sejati. Bukan karena gelarnya. Bukan karena honornya. Tapi karena ia memilih jalan yang tidak banyak orang berani tempuh, mengajar dari hati, dan mengabdi dengan sepenuh jiwa. Sumber: radarmedia.id","og_url":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/2025\/11\/26\/mustaqim-guru-yang-tinggal-di-perpustakaan-bukti-pengabdian-guru\/","og_site_name":"Perpustakaan Hanoman","article_published_time":"2025-11-26T06:25:14+00:00","article_modified_time":"2025-11-26T06:25:28+00:00","og_image":[{"width":1280,"height":720,"url":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/image-2-1.png","type":"image\/png"}],"author":"admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admin","Est. reading time":"3 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/2025\/11\/26\/mustaqim-guru-yang-tinggal-di-perpustakaan-bukti-pengabdian-guru\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/2025\/11\/26\/mustaqim-guru-yang-tinggal-di-perpustakaan-bukti-pengabdian-guru\/"},"author":{"name":"admin","@id":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/#\/schema\/person\/5c910934a951b2bee5c28a9411a9630e"},"headline":"Mustaqim, Guru yang Tinggal di Perpustakaan Bukti Pengabdian Guru","datePublished":"2025-11-26T06:25:14+00:00","dateModified":"2025-11-26T06:25:28+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/2025\/11\/26\/mustaqim-guru-yang-tinggal-di-perpustakaan-bukti-pengabdian-guru\/"},"wordCount":611,"publisher":{"@id":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/2025\/11\/26\/mustaqim-guru-yang-tinggal-di-perpustakaan-bukti-pengabdian-guru\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/image-2-1.png","articleSection":["Artikel"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/2025\/11\/26\/mustaqim-guru-yang-tinggal-di-perpustakaan-bukti-pengabdian-guru\/","url":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/2025\/11\/26\/mustaqim-guru-yang-tinggal-di-perpustakaan-bukti-pengabdian-guru\/","name":"Mustaqim, Guru yang Tinggal di Perpustakaan Bukti Pengabdian Guru - Perpustakaan Hanoman","isPartOf":{"@id":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/2025\/11\/26\/mustaqim-guru-yang-tinggal-di-perpustakaan-bukti-pengabdian-guru\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/2025\/11\/26\/mustaqim-guru-yang-tinggal-di-perpustakaan-bukti-pengabdian-guru\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/image-2-1.png","datePublished":"2025-11-26T06:25:14+00:00","dateModified":"2025-11-26T06:25:28+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/2025\/11\/26\/mustaqim-guru-yang-tinggal-di-perpustakaan-bukti-pengabdian-guru\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/2025\/11\/26\/mustaqim-guru-yang-tinggal-di-perpustakaan-bukti-pengabdian-guru\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/2025\/11\/26\/mustaqim-guru-yang-tinggal-di-perpustakaan-bukti-pengabdian-guru\/#primaryimage","url":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/image-2-1.png","contentUrl":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/image-2-1.png","width":1280,"height":720},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/2025\/11\/26\/mustaqim-guru-yang-tinggal-di-perpustakaan-bukti-pengabdian-guru\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Mustaqim, Guru yang Tinggal di Perpustakaan Bukti Pengabdian Guru"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/#website","url":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/","name":"Perpustakaan Hanoman","description":"","publisher":{"@id":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/#organization","name":"Perpustakaan Hanoman","url":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Logo-100.png","contentUrl":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Logo-100.png","width":100,"height":100,"caption":"Perpustakaan Hanoman"},"image":{"@id":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/#\/schema\/person\/5c910934a951b2bee5c28a9411a9630e","name":"admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/af611300caac11cd1c354d7f8fe22e0ce3330b673569e8101715685464659c94?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/af611300caac11cd1c354d7f8fe22e0ce3330b673569e8101715685464659c94?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin"},"sameAs":["https:\/\/perpustakaanhanoman.id"],"url":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/author\/perpushanoman\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/306","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=306"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/306\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":309,"href":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/306\/revisions\/309"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/308"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=306"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=306"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaanhanoman.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=306"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}